Jejak Sejarah Peninggalan Paku Buwono IX di Desa Langenharjo

 

Langenharjo merupakan salah satu Desa yang terletak di Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Desa yang terletak di sebelah selatan Jembatan Bacem ini, memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Menurut penuturan sesepuh di desa ini, Desa Langenharjo dahulu kala sering di gunakan oleh Paku Buwono IX untuk bertapa brata atau meditasi semasa beliau belum menjadi Raja Kasunanan Surakarta. Desa yang pada mulanya bernama Desa Klarean/Klareyan, kemudian berubah menjadi Desa Langenharjo setelah beliau diangkat menjadi Raja Kasunanan Surakarta. Langenharjo memiliki filosofi, yakni langen yang berarti ramai, dan harjo berarti Makmur. Dengan filosofi tersebut Paku Boewono IX berharap kelak desa ini dapat menjadi desa yang Makmur.

Di Desa ini terdapat cagar budaya peninggalan Keraton Kasunanan Surakarta, yakni Pesanggrahan dan Masjid Cipto Sidi. Menurut penuturan GPH Soeryo Wicaksono yang merupakan pengelola pesanggrahan Langenharjo, ide pembangunan pesanggrahan Langenharjo ini didadapatkan oleh Paku Buwono IX semasa ia bermeditasi di wilayah ini. Menurut cerita masyarakat, wahyu untuk membangun pesanggrahan didapatkan oleh Paku Buwono IX ketika beliau bermeditasi di bawah pohon dipinggir sungai Bengawan Solo. Pada saat itulah, ia mendapatkan wahyu agar kelak ketika sudah diangkat menjadi Raja Kasunanan Surakarta, agar membangun pesanggrahan wilayah tersebut.

Semasa Paku Buwono IX menjadi Raja, beliau mewujudkan wahyu tersebut dengan menata kawasan tersebut, kemudian dibangunnya beberapa infrastruktur, dan kemudian berdirilah bangunan yang kita kenal sebagai Pesanggrahan Langenharjo. Pada mulanya Pesanggrahan Langenharjo memiliki luas sekitar 2000 meter persegi, atau 2 hektar. Tetapi saat ini luasnya hanya 1,5 hektar. Hal tersebut dikarenakan sebagian lahannya dipakai untuk proyek pelurusan sungai Bengawan Solo. Proyek tersebut mengakibatkan beberapa bangunan menjadi digusur, dan menyebabkan beberapa bangunan lama hanya menjadi sejarah saja, tanpa ada wujud nyatanya.

Menurut saksi sejarah, dahulu pesanggrahan ini disebut sebagai keraton kecil, di depan pesanggrahan terdapat pohon beringin kembar sebagaimana seperti yang ada di alun-alun Keraton Kasunanan. Di sudut belakang pesanggrahan juga terdapat tempat pemandian air panas yang bersumber dari mata ar langsung yang ada di sana. Dahulu pemandian air panas di pesanggrahan langenharjo ini dapat mengobati berbagai penyakit, khususnya penyakit kulit, hal ini dikarenakan kandungan belerang yang terkandung di dalam mata airnya.

 

Saat ini Pesanggrahan Langenharjo sudah berstatus sebagai Cagar Budaya Situs Pesanggrahan Langenharjo. Dengan status tersebut diharapkan mampu menjaga segala sesuatu yang memiliki nilai sejarah yang tinggi di area Pesanggrahan Langenharjo.  

Selain Pasanggrahan, dan Pemandian Air Panas, di Langenharjo juga terdapat masjid yang dibangun sejak era Paku Buwono IX, yakni Masjid Ciptosidi. Menurut cerita, pembangunan Masjid Ciptosidi ini dilakukan oleh Patih Sosronegoro dimasa pemerintahan Paku Boewono IX bersamaan dengan pembangunan Masjid Agung Manang. Pembangunan Masjid Ciptosidi ini kemudian diteruskan pada masa pemerintahan PB X, yang mana menurut cerita yang berkembang Masjid Ciptosidi ini memiliki 2 kembaran, yaitu Masjid Agung Manang yang terletak di daerah Manang, Sukoharjo dan Masjid Cipto Mulyo yang berada di daerah Pengging, Boyolali.

Bangunan Masjid Ciptosidi sampai saat ini masih belum banyak berubah. Ornamen dan gaya bangunannya pun masih kental dengan budaya Jawa. Dari segi bangunan, masjid ini berbentuk bujur sangkar, yang mana di setiap sisi bangunannya ditopang dengan tiang-tiang penyanga yang terbuat dari kayu, atap masjid ini berbentuk tumpang susun yang juga bahan bangunan utamanya terbuat dari kayu dan genteng sebagai atap penutupnya. Terdapatnya beduk menjadi salah satu ciri khas masjid ini. Beduk tersebut masih sering dibunyikan untuk memberikan tanda waktu azan. Selain beduk, konsep mimbar di Masjid Ciptosidi ini juga berbeda dan mempunyai ciri khas tersendiri. Jika di masjid pada umumnya khotib menyampaikan ceramah dengan berdiri, di masjid ciptosidi ini khotib menyampaikan ceramat dengan duduk di kursi (khas masjid kuno).

 

 

Komentar